TENTANG TUBUH MANUSIA
- Punya paha besar mungkin sedikit mengganggu penampilan. Tapi, orang yang berpaha besar sebenarnya punya risiko lebih kecil terkena penyakit jantung dan mati muda.
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal British Medical Journal, disebutkan orang yang lingkar pahanya lebih dari 60 cm risiko terkena serangan jantungnya lebih kecil. Lalu, apa kaitan antara ukuran paha dan jantung?
Menurut tim peneliti, orang yang pahanya kecil mungkin tidak memiliki massa otot yang cukup untuk mengatur insulin secara baik sehingga risiko terkena diabetesnya pun meningkat. Bila dirunut lagi, risiko terkena serangan jantungnya pun besar.
Studi ini dilakukan berdasarkan survei terhadap 3000 orang pria dan wanita. Selama 10 tahun riwayat kesehatan para responden ini dipantau. Mereka juga diukur tinggi badan, berat, ukuran paha, pinggang, dan pinggul untuk mengetahui persentasi lemak tubuhnya.
Faktor lain yang ikut dimasukkan dalam kriteria adalah aktivitas para responden, seperti kebiasaan merokok, kadar kolesterol, serta tekanan darahnya. Kemudian para peneliti mengamati insiden serangan jantung dari para responden dalam waktu 10 tahun dan angka kematian dalam periode 12,5 tahun.
Ternyata, mereka yang punya paha kecil (kurang dari 55 cm) punya risiko dua kali lebih besar mengalami kematian akibat masalah kesehatan serius.
"Naiknya risiko juga bergantung pada kegemukan, gaya hidup, dan faktor risiko penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi. Tapi kami juga menemukan bahwa risikonya lebih tinggi pada orang yang pahanya kecil," kata ketua peneliti Profesor Berit Heitmann, dari Copenhagen University Hospital.
Studi sebelumnya telah menunjukkan ukuran pinggang juga berpengaruh pada penyakit kardiovaskular. Bila lingkar pinggang Anda lebih dari 88,9 cm (untuk wanita) dan 101,6 cm (untuk pria), maka berhati-hatilah karena Anda beresiko terkena penyakit kardiovaskular.
Sementara itu, ukuran paha yang kecil tadi, menurut Profesor Heitmann berkaitan dengan bagaimana respon tubuh terhadap insulin. Jumlah lemak yang sedikit juga bisa berpengaruh pada cara tubuh memecah makanan.
Untuk menambah ukuran paha, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni berolahraga minimal 3 kali seminggu untuk melatih otot-otot di bagian paha. Bila dilakukan secara rutin, dalam 3 bulan ukuran paha Anda akan bertambah 6-10 persen dari ukuran semula.
POTENSI IDONESIA MENGURANGI PEMANASAN GLOBAL
JAKARTA, — Indonesia berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 60 persen hingga tahun 2030 dengan menggabungkan kebijakan lingkungan hidup yang tepat dan dukungan internasional.
Perubahan kebijakan dan kelembagaan di sektor kehutanan, pembangkit listrik, transportasi, dan pengelolaan lahan gambut merupakan peluang bagi Indonesia untuk beralih ke jalur ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Demikian paparan Menteri Lingkungan Hidup dan Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Rachmat Witoelar kepada para wartawan, Kamis (27/8) di Jakarta. Data ini merupakan hasil kajian sementara DNPI tahun ini.
"Indonesia mengakui adanya ancaman yang dihadapi semua bangsa dari pemanasan global, dan akan mengupayakan pengurangan emisi dalam negeri sepanjang hal tersebut sesuai dengan tujuan pembangunan nasional," ujar Rachmat.
Data DNPI menunjukkan, jumlah emisi gas rumah kaca Indonesia pada 2005 mencapai 2,3 giga ton. Emisi ini akan meningkat sebesar 3,6 giga ton pada 2030 apabila tidak terdapat perubahan dalam cari pengelolaan di beberapa sektor.
Indonesia sendiri, salah satunya, akan fokus pada sektor kehutanan, pertanian, transportasi, bangunan, dan semen. Dari sektor ini, Indonesia berpeluang mengurangi gas rumah kaca sebesar 2,3 giga ton pada 2030.
Seperti diketahui, lahan gambut dan kehutanan merupakan sumber terbesar emisi gas rumah kaca di Indonesia, yaitu mencapai 45 persen. Untuk menekan emisi tersebut, Indonesia akan merehabilitasi lahan gambut yang rusak.
"Selain itu, Indonesia akan secara aktif memengaruhi negosiasi internasional tentang emisi gas, mengembangkan strategi perubahan iklim di dalam negeri yang handal, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan risiko dan peluang perubahan iklim," ujar Rachmat.
LAPISAN ES MENCAIR
NORDAUSTLANDET,-Sekilas gletser itu seperti gletser lain di kutub utara yang beku. Namun dalam pengamatan lebih dekat, sebuah wajah pedih terlukis pada dinding es yang meleleh, yang tampak tengah menangis dan mengalirkan sungai air mata.
Citra "Ibu Bumi' yang sedang sedih terlihat oleh penduduk setempat selama proses pencairan, dengan es yang meleleh dan salju jatuh ke laut di bawahnya.
Gambar menarik pada lapisan es Austfonna yang terletak di Nordaustlandet di Kepulauan Svalbard, Norwegia itu hampir pasti akan digunakan para aktivis lingkungan untuk melakukan protes terkait perubahan iklim. Kenaikan muka laut yang disebabkan es yang meleleh merupakan salah satu kekuatiran utama dari dampak pemanasan global. Para ahli telah mengingatkan bahwa negara-negara yang berada di dataran rendah akan berada di bawah permukaan air.
Gambar Ibu Bumi yang menangis itu diambil seorang fotografer angkatan laut dan dosen lingkungan hidup Michael Nolan dalam sebuah pelayaran tahunan untuk mengamati gletser tersebut dan kehidupan liar di sekitarnya.
Jon Ove Hagen, seorang ahli gletser yang juga anggota Jawatan Monitoring Gletser Dunia (World Glacier Monitoring Service/WGMS) dan profesor geosains di Universitas Oslo, Norwegia, telah memberikan konfirmasi bahwa lapisan es yang memberi citra Ibu Bumi yang 'menangis' itu terus menerus menyusut sebanyak 160 kaki setiap tahun selama beberapa dekade. Hagen telah mempelajari lapisan es Austfonna sejak tahun 1988.
Austfonna merupakan kawasan lapisan es terbesar di Norwegia, tepatnya di Pulau Nordaustlandet di Kepulauan Svalbard. Menurut Hagen (59), Austfonna memiliki luas sekitar 3.000 mil persegi dan sejauh ini merupakan lapisan es terbesar di Svalbard dan salah satu yang terbesar di Arctic.
Ia menjelaskan, penyusutan permukaan gletser di Austfonna dalam 12 tahun rata-rata mencapai 160 kaki per tahun. Geometri kawasan es itu, katanya, sedang berubah. Bagian depannya terus mundur, bagian bawahnya menjadi lebih tipis, dengan tingkat penipisan tiga kaki per tahun, sementara bagian dalamnya menebal sekitar 1,6 kaki per tahun. Lapisan itu, kata Hagen, berkurang sekitar 1,6 kubik mil es setiap tahun.
Austfonna merupakan area lapisan es terbesar kedua di Eropa setelah Vatnajvkull di Islandia dan tergolong ketujuh tersebesar di dunia.
MENGAPA MASIH ADA GEMPA
Potensi gempa dari lempeng samudra masih menjadi kajian para ahli sepanjang zaman. Kajian itu di antaranya di Indonesia yang selama ini meneliti pergeseran lempeng Indo-Australia dan Eurasia.
Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,3 skala Richter (SR) di laut selatan Jawa Barat atau di Samudra Hindia, Rabu (2/9) pukul 14.55 WIB dengan pusat gempa 104 km di barat daya Tasikmalaya, terjadi akibat penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.
Pusat gempa berada di koordinat 8.24 lintang selatan (LS) - 107.32 bujur timur (BT) dengan kedalaman 30 kilometer.
Menurut pakar tsunami, Budi Waluyo, penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia selama ini terus terjadi sampai sekarang.
"Jika batuan pada lempeng Eurasia kuat menahan, terkumpul energi besar. Apabila suatu saat tak kuat menahan, energi tersebut lepas dan menjadi sumber kekuatan gempa," kata Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta itu.
Ia mengatakan, dari penunjaman lempeng Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia, terjadi pergeseran rata-rata tujuh sentimeter setiap tahun.
Menurut Budi, Samudra Hindia termasuk laut selatan Jawa merupakan kawasan rawan tsunami.
Ia menyebutkan, akibat gempa tektonik berkekuatan 6,8 SR di laut selatan Jawa pada 17 Juli 2006 pukul 15.19.73 WIB terjadi tsunami yang melanda pantai selatan itu.
Tsunami terjadi pada pukul 15.39.45 WIB, atau sekitar 20 menit setelah gempa. Ketinggian gelombang tsunami bervariasi antara satu hingga 3,5 meter, dan rambahan 75-500 meter.
Pusat gempa saat itu berada di koordinat 9.295 LS-107.347 BT pada kedalaman delapan kilometer.
Koordinat 9.295 LS-107.347 BT tersebut berada dekat dengan pusat gempa Tasikmalaya, Rabu (2/9) pukul 14.55 WIB di koordinat 8.24 LS-107.32 BT dengan kedalaman 30 kilometer.
Berdasarkan hasil survei lapangan setelah terjadi gempa tektonik berkekuatan 6,8 SR di laut selatan Jawa pada 17 Juli 2006 pukul 15.19.73 WIB yang kemudian terjadi tsunami, terekam data tsunami melanda beberapa lokasi di sepanjang pantai selatan tersebut.
Survei lapangan dengan menggunakan global positioning system (GPS) dan pengukuran jejak ketinggian serta jejak jarak rambahan, terekam data setelah gempa terjadi tsunami di beberapa lokasi di pantai selatan Jawa mulai dari Kebumen, Cilacap hingga Pangandaran.
Bahkan, menurut Budi Waluyo, tsunami yang terjadi saat itu sampai ke Pantai Sadeng, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
"Memang ketika itu tidak sampai diberitakan media massa sehingga tidak banyak diketahui masyarakat bahwa Pantai Sadeng dilanda tsunami," katanya.
Oleh karena itu, ia mengingatkan warga pantai selatan Jawa agar selalu waspada terhadap kemungkinan terjadi gempa di Samudra Hindia dengan kekuatan besar dan pusat gempa dangkal karena berpotensi menyebabkan tsunami.
Terkait dengan gempa di laut selatan Jawa Barat, Rabu, 2 September 2009, pukul 14.55 WIB, yang pusat gempanya di 104 km barat daya Tasikmalaya, itu BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini bahaya tsunami.
Namun, setengah jam kemudian BMKG mencabut peringatan dini itu karena tidak terjadi tsunami.
Gerak sesar naik
Sementara itu, dari analisis terhadap gempa tektonik berkekuatan 6,8 SR di laut selatan Jawa pada 17 Juli 2006 pukul 15.19.73 WIB yang kemudian terjadi tsunami. Berdasarkan posisi pusat gempa saat itu, dan kedalaman serta mekanisme fokal, diperkirakan telah terjadi mekanisme gerak sesar naik di dasar samudra dengan patahan berarah U 270 derajat-300 derajat T, dan kemiringan sekitar 7 derajat ke utara.
Patahan tersebut kemungkinan besar berhubungan dengan pergerakan dan runtuhan dari prisma akresi yang dipicu oleh penunjaman lempeng Indo-Australia.
Patahan itu menyebabkan terjadinya dislokasi massa batuan, yang kemudian mendorong sejumlah besar volume air laut sehingga membentuk gelombang pasang yang bergerak secara radikal menjauhi pusat gempa.
Berdasarkan hasil pengukuran ketinggian dan rambahan tsunami di beberapa lokasi, terlihat kecenderungan terjadi penguatan amplitudo (atenuasi) gelombang tsunami di teluk-teluk yang langsung menghadap laut lepas.
Keberadaan paparan pantai dengan kedalaman air relatif dangkal kemungkinan menyebabkan pecahnya gelombang tsunami pada saat menghantam pantai sehingga menimbulkan kerusakan parah sampai radius 100-300 meter dari titik pasang tertinggi.
Rekaman data lapangan di sepanjang wilayah bencana menunjukkan, Pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, terlanda tsunami paling berat.
Pantai Pangandaran bagian barat relatif mengalami kerusakan lebih parah akibat terjangan gelombang pasang jika dibandingkan dengan Pantai Pangandaran bagian timur.
Keberadaan Semenanjung Pananjung relatif melindungi Pantai Pangandaran bagian timur dari terjangan gelombang pasang.
Pada saat kejadian, gelombang pasang yang menghantam Semenanjung Pananjung dipantulkan sehingga bergerak menuju Pantai Pangandaran bagian barat dengan ketinggian sekitar dua meter pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai.
Berdasarkan data ketinggian dan rambahan tsunami, diharapkan ada interpretasi tentang zona-zona rawan, dan ini sebagai masukan bagi penataan kembali tata ruang di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa.
Bukan rambatan Sumatera
Pakar Geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Afnimar mengatakan, gempa Tasikmalaya, Jawa Barat, berkekuatan 7,3 SR, Rabu (2/9) pukul 14.55 WIB, bukan merupakan rambatan gempa dari Siberut, Sumatera Barat, pada pagi harinya, Rabu pukul 09.08 WIB.
"Gempa Sumatera memicu gempa di Jawa, secara saintifik tidak masuk akal karena lokasinya terlalu jauh," kata Afnimar.
Menurut dia, semua kawasan di sepanjang pantai barat Sumatera hingga pantai selatan Jawa sampai pantai selatan Nusa Tenggara berpotensi terjadi gempa karena terletak di tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.
Artinya, kata dia, masing-masing lokasi di kawasan itu memiliki zona gempa sendiri-sendiri yang tidak saling terkait antara zona satu dan zona lainnya.
"Kebetulan saja terjadi dua gempa yang dirasakan dalam satu hari," katanya. Ia mengatakan, gempa tersebut terjadi jika di suatu lokasi terdapat akumulasi energi yang sudah tidak bisa ditahan lagi oleh titik tersebut.
"Gempa itu bisa saja memicu gempa susulan di sekitarnya, tetapi masih tetap di zona yang sama," katanya.
Namun, Afnimar sependapat bahwa suatu gempa yang besar bisa saja dirasakan hingga ke lokasi yang sangat jauh, misalnya gempa yang berpusat di 104 barat daya Tasikmalaya itu juga dirasakan oleh penduduk Denpasar, Bali.
"Gempa tersebut getarannya bisa saja dirasakan hingga ke seluruh dunia, apabila gempanya sangat besar. Kalau gempa Tasikmalaya, tentu saja tidak akan bisa dirasakan di Amerika Serikat karena terlalu jauh," katanya.
Menurut BMKG, gempa Tasikmalaya pada Rabu 2 September 2009 itu terasa di Jakarta sebesar IV modified mercalli intensity (MMI).
Pada III-IV MMI gempa dirasakan semua orang, IV-V MMI gempa dirasakan semua orang tanpa ada kerusakan bangunan, dan MMI V-VI gempa mengakibatkan kerusakan bangunan.
Sementara dari Bandung dilaporkan guncangan sekitar II-III MMI, II-III MMI di Tangerang, II MMI di Tegal, V-VI MMI di Puncak, IV-V MMI di Depok, II-III MMI di Subang, VI MMI di Sukabumi, III MMI di Cibinong, IV-V MMI di Purwokerto, II MMI di Klaten, III MMI di Bekasi, II MMI di Wonosari (Gunungkidul), dan II-III MMI di Denpasar.